PPTI Kampus Masaran: Sebuah Impian Besar

“Rasulullah SAW bersabda,’ Jika berdoa meminta surga, pintalah surga firdaus.’ Ia adalah surga tertinggi, dambaan setiap orang mukmin. Maka santri-santriku, demikian pula kalian dalam bercita-cita, bercita-citalah yang setinggi-tingginya. Dalam berdoa, pintalah yang terbaik” – KH. Naharussurur

Pernah dalam satu kesempatan pada saat mengisi pekan Khutbatul Arsy, Almarhum KH. Naharussurur menyampaikan bahwa Ta’mirul Islam akan meluas seribu meter ke Timur, seribu meter ke Barat, seribu meter ke utara dan seribu meter ke selatan. Sebuah impian visioner sang pendiri pondok yang mengisyaratkan bahwa pondok harus terus maju dan berkembang.

Adalah Pondok Pesantren Ta’mirul Islam kampus Masaran, yang kini tengah dibangun di area persawahan seluas 1,1 Ha di dukuh Sidomulyo desa Krikilan kecamatan Masaran kabupaten Sragen, merupakan bentuk realisasi dari impian mulia tersebut. Semasa hidup beliau, dalam berbagai kesempatan seringkali beliau sampaikan bahwa tanah persawahan yang dibeli sekitar tahun 2007 tersebut, nantinya akan dimanfaatkan sebagai perluasan pondok (PPTI kampus Solo) yang tak memungkinan lagi untuk diperluas, karena letaknya yang berada di tengah kota.

Syukur Alhamdulillah, pada tahun ini, tepat satu tahun setelah pembangunan infrastruktur dimulai, kegiatan belajar mengajar di PPTI kampus Masaran telah aktif berjalan. Dikomandoi oleh Ustadz Muhamad Yakub Mubarok, tim asatidzah kampus Masaran yang berjumlah 8 orang bersama dengan 34 santri kelas 2 KMI, bahu membahu menghembuskan nafas pendidikan Ta’mirul Islam di bumi Masaran.  

Ada rasa was-was yang sempat muncul dari sebagian wali santri ketika diputuskan untuk memindahkan 34 santri pilihan tersebut dari kampus Solo ke kampus Masaran. Dengan bayang-bayang infrastruktur yang masih terbatas, fasilitas yang tak selengkap kampus Solo, serta posisi yang jauh dari keramaian kota, timbul pertanyaan apakah santri-santri tersebut mampu beradaptasi dan betah di sana atau justru sebaliknya. Namun kekhawatiran tersebut segera terbantah ketika terbukti bahwa santri-santri tersebut justru demikian menikmati suasana kampus yang baru.

Mengadaptasi konsep sekolah alam, ada yang sedikit berbeda dari penyelenggaraan pendidikan di kampus Masaran. Proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dibagi dalam kelas-kelas kecil yang terdiri dari 11 atau 12 santri saja tiap kelasnya. Alih-alih menggunakan ruang kelas tertutup seperti pada umumnya, KBM justru diselenggarakan di kelas terbuka yang berbentuk gazebo. Kegiatan santri diluar kelas pun lebih banyak berhubungan dengan alam, seperti: ternak ikan, tanam menanam, lomba memancing, lomba layang-layang, sepak bola dengan lapangan terbuka dan yang masih dalam proses persiapan yakni latihan panahan.

Suasana baru yang disesuaikan dengan lingkungan persawahan di kampus tersebut, tidak serta merta menghilangkan kedisiplinan ala pondok modern yang selama ini menjadi ciri khas Ta’mirul Islam. Pendidikan keorganisasian sebagai roda pembantu pergerakan disiplin pondok tidak lupa untuk diterapkan. Salah satu usahanya yakni dengan membentuk kepengurusan Organisasi Santri Ta’mirul Islam (OSTI) yang diambil dari santri-santri kampus itu sendiri.

Meski saat ini masih bersifat rintisan dimana santri-santrinya masih didatangkan dari kampus pusat di Solo, PPTI kampus Masaran kedepan sesungguhnya diproyeksikan sebagai pondok putra seutuhnya. Dengan infrastruktur yang direncanakan mampu menampung 1000 santri, diharapkan kampus Masaran mampu menyelesaikan masalah keterbatasan tempat yang selama ini menjadi problem di kampus Solo. Peningkatan pendaftar santri baru yang semakin tahun semakin bertambah dan keterbatasan tempat diharapkan tidak lagi menjadi dilema di tahun-tahun mendatang. Adapun kampus Solo beberapa tahun ke depan akan diprioritaskan untuk pondok putri dan perguruan tinggi, setelah perpindahan santri putra ke kampus Masaran secara bertahap usai.

Saat ini PPTI kampus Masaran telah memiliki sejumlah bangunan yang mendukung penyelenggaran pendidikan di tempat tersebut. Infrastruktur yang telah dimilik kampus ini antara lain: 1 unit Masjid berkapasitas 200 jamaah, 2 ruang kamar tidur santri, 2 ruang kamar tidur asatidzah, 1 ruang kantor, 1 ruang dapur, 3 lokal kelas berbentuk gazebo, 1 unit gazebo utama yang berfungsi sebagai ruang tamu dan ruang pertemuan, 1 unit area parkir sepeda motor yang sekaligus berfungsi sebagai arena tenis meja, 2 unit kolam ikan, 1 unit lapangan sepakbola terbuka, 1 unit area panahan, dan 3 unit gudang material pembangunan.  Adapun yang tengah dalam proses pembangunan yakni gedung asrama santri setinggi 3 lantai dengan 30 lokal ruangan di dalamnya.

Kedepan, akan menyusul pembangunan 3 gedung asrama sejenis secara bertahap sehingga secara total direncanakan terdapat 4 gedung asrama di kampus ini. Kemudian disusul dengan pembangunan Masjid Jami’, aula pertemuan dan area pertokoan. Meski dilakukan secara bertahap, namun pembangunan PPTI kampus Masaran terus berlangsung secara berkesinambungan, sebagaimana pesan KH. Hasan Abdullah Sahal “Lebih baik merangkak tapi maju, daripada lari cepat tapi di tempat”.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.