Profil Santri: Dita Yulyana – Ketua OSTI 2017/2018

Masih segar di ingatan, hari saya masuk Ponpes Ta’mirul Islam. Kala itu saya menangisi kepergian orang tua di depan gerbang Pondok. Sempat saya berpikir untuk lari menyusul mereka. Bagaimana tidak? Saya hanyalah seorang gadis kecil yang terbiasa dengan perhatian dan kasih sayang orang tua. Lalu tiba-tiba saya harus hidup tanpa kehadiran mereka.

Karena melihat tangis saya, beberapa santriwati yang sudah remaja, akhirnya, menghampiri dan mencoba menenangkan saya. Mereka mengajak saya untuk duduk. Lalu berkisah tentang kehidupan di Pondok hingga saya begitu terkesan dan memutuskan untuk mencobanya. Para santriwati remaja itu semuanya berjas hitam. Beberapa hari kemudian, saya tahu bahwa mereka adalah pengurus OSTI.

Pada hari-hari awal saya di Pondok, saya mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan peraturan pondok. Apalagi melihat para pengurus OSTI yang menerapkan peraturan dengan ketat dan disiplin. Saya hampir-hampir tak kuat. Tapi menyaksikan para pengurus itu, yang mampu membagi waktu mereka, antara mengurus diri sendiri dan santriwati lain, saya menjadi ingin seperti mereka. Bahkan lebih baik. Saya merasa tertantang dengan hal ini, maka mulai saat itu saya bertekad akan bertahan di Pondok sampai kelas akhir.

Tak terasa lima tahun berlalu begitu cepat. Hingga akhirnya pelantikan pengurus OSTI di depan mata. Saya yang dulu hanya bisa menyaksikan para kakak kelas dilantik, kini saya sendiri yang berada di atas panggung. Dilantik sebagai pengurus OSTI. Tak tanggung-tanggung, saya terpilih sebagai Ketua OSTI. Saat itu saya langsung menitikkan air mata, mengingat betapa besar amanah yang harus saya emban.

Selama menjadi ketua, saya bersikap keras pada diri saya sendiri. Saya harus lebih disiplin daripada anggota saya. Karena saya punya motto, “Sebelum memimpin orang lain, kita harus mampu memimpin diri sendiri.” Saya terus membiasakan diri untuk disiplin, cekatan, dan peka terhadap sekitar.

Pada awal jabatan saya sebagai ketua, pengurus yang saya pimpin masih belum mampu menjalankan tugas-tugas mereka dengan baik. Maka, agar tugas tidak semakin terbengkalai, saya memotivasi dan menyemangati mereka. Kami pun mengadakan musyawarah untuk mencari tahu kendala-kendala apa saja yang dialami oleh teman-teman saya. Alhamdulillah, dengan bimbingan dari para ustadzah Bag. Pengasuhan, kami bisa melewati segala rintangan dengan cukup baik.

Menjadi pengurus OSTI, apalagi ketua, merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya.Menjadi ketua bukanlah hal yang mudah. Bersama wakil saya, kami berusaha saling membantu dan mendukung satu sama lain. Suka duka pasti nya mengiringi perjalanan kami.

Menjadi ketua OSTI merupakan pelajaran yang tak ternilai. Selain dituntut menertibkan anggota, kami pun wajib memberi suri tauladan yang baik. Ketua disebut-sebut sebagai panutan. Dalam sebuah mahfudzot, disebutkan, “Jika pemimpin itu baik, maka yang dipimpin pun akan baik pula.”

Alhamdulillah, pada 1 November 2018, kepengurusan pada periode saya telah resmi beralih pada periode selanjutnya. Maka, saya berpesan pada pengurus OSTI periode 2018/2019 agar selalu bahu-membahu untuk membawa perubahan yang lebih baik lagi. Ingatlah bahwa kalian itu saru di atas perbedaan yang ada. Terus berusaha dalam memajukan dan menertibkan Ponpes Ta’mirul Islam. Pesan saya untuk anggota OSTI adalah taatilah peraturan yang ada, jalani semua peraturan dengan sepenuh hati, dan awali dengan niat yang baik.

(Ditulis oleh Naila berdasarkan wawancara dengan Dita Yulyana
=============================
Data Diri
Nama: Dita Yulyana
TTL: Boyolali, 4 Juli 2001
Asal: Boyolali
Wali: Bp. Tumino
Hobi: Mendaki
Kelas: 5 KMI
Jabatan: Ketua OSTI 2017/2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *