Profil K.H Naharussurur

Oleh: KH. Mohammad Adhim, M.Pd.

Sebuah perjalanan anak manusia tidaklah semulus yang terbayangkan, terkadang kita hanya melihat pada masa kesuksesannya saja. Dibalik sebelum kesuksesan diraih, banyak hambatan dan rintangan yang harus dilalui. Setiap kesuksesan pasti didapat dengan keseriusan dalam meraihnya. Kesuksesan tidak ada yang datang tiba-tiba, tidak ada yang tanpa sebab.

Demikianlah sekelumit gambaran perjalanan hidup Almarhum Ust. H. Naharussurur dalam mengarungi kehidupan dunia. Penulis sengaja mengawali tulisan ini dengan gambaran tersebut, supaya kita tidak selalu dan terus beranggapan bahwa kesuksesan itu akan dapat diraih dengan mudah. Tulisan ini walaupun sederhana tetapi berupaya untuk mengungkap kepada para pembaca tentang sebuah perjalanan Almarhum Ust. H. Naharussurur.

Lahir di kampung Tegalsari pada tanggal 29 November 1940. Tempat lahir beliau tepatnya adalah di depan Gedung Salam RohmahPondok Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta (sekarang sudah dibangun rumah). Bapaknya bernama KH. Syafi’i dari desa Karanganom Klaten. Ibu beliau adalah Intiyah, putri dari KH. Iskak Kartohudoro. Dari perkawinan KH. Sayi’fi dan Intiyah ini dilahirkan 3 Putra. Yang pertama adalah Hj. Qoyyimah, kedua Almarhum H. Naharussurur, dan ketiga KH. Misbahussurur.

KH. Syafi’i, setelah menikah beliau bekerja kepada kakak ipar beliau yang bernama KH. Ahmad Al-Asy’ary. Setelah 17 tahun menikah beliau belum dikaruniai putra. Maka disampaikanlah hal tersebut kepada kakak iparnya yang juga majikannya. Setelah mendengarkan hal tersebut, bukan solusi yang didapat, tetapi KH. Syafi’i diberi tugas untuk menagih piutang batik dari para pedagang di Kalimantan. Tugas ini diberikan
KH. Ahmad Al-Asy’ary kepada Mbah Syafi’i ditengah kegalauan beliau. Namun demikian dilaksanakanlah tugas tersebut sebaik-baiknya. Atas izin Allah Ta’ala, sekembali beliau dari merantau di Kalimantan Ibu Intiyah dikaruniai Allah untuk mengandung anak pertama (Hj. Qoyyimah).

Dua tahun setelah itu lahirlah putra kedua yaitu H. Naharussurur dan dua tahun kemudian Ibu Intiyah mengandung putra ketiga yaitu H. Misbahussurur, namun saat H. Misbahussurur lahir, ibu Intiyah dipanggil Allah, sehingga saat itu ketiga putra putri KH. Syafi’i sudah tidak punya ibu, dan ternyata KH. Syafi’i 2 th kemudian menyusul istrinya sehingga ketiga-tiganya putra putri KH. Syafi’i telah yatim-piatu, saat itu usia H. Naharussurur 4 th.

Saat itulah episode kehidupan Almarhum H. Naharussurur berubah, yang telah menjadi seorang yatim piatu pada umur 4 tahun. Sejak saat itu pula beliau dipelihara oleh kakek, nenek atau saudara-saudara tua beliau dari Karanganom Klaten.

Masa kecil beliau selalu dihiasi dengan kesederhanaan dan kesulitan, namun tetap saja ada canda tawa di dalamnya, karena masih pada masa kanak-kanak. Sering beliau bercerita, pengalaman yang didapat semasa kecil, terlebih tumbuh sebagai anak yatim piatu. Tatkala Hari Raya datang, setelah melaksanakan sholat idul fitri, anak-anak seusianya selalu didampingi oleh bapak ibunya ketika silaturrohim kepada sanak saudaranya. Namun beliau tidaklah demikian, jangankan didampingi, melihat wajah keduanyapun belum pernah dapat dibayangkan, karena kedua orang tuanya telah meninggal ketika beliau masih kecil. Namun hal ini tidak menjadikan beliau kecewa, tapi malah tambah pasrahnya kepada Allah dan tambah dekat dengan keluarga besar. Inilah salah satu tirakat beliau yang patut kita contoh.

Setelah menginjak usia Sekolah Dasar, beliau banyak tinggal di kota Solo. Diasuh oleh Kakek Neneknya dari garis keturunan Ibu Intiyah yaitu KH. Iskak Kartohudoro.

Tidak ada tempat pasti bagi beliau untuk tidur di malam hari, bahkan untuk makan sehari-haripun beliau juga tidak tahu pasti.

Beliau selalu menunggu ajakan saudara-saudaranya untuk bersantap dirumahnya. Pernah suatu ketika beliau duduk di kelas 5 SD, beliau disuruh oleh saudaranya untuk mengantarkan barang ke desa Popongan Klaten (+15 Km dari Tegalsari Solo). Sepulang dari mengantar barang tersebut dengan bersepeda, beliau barulah diajak makan pagi.

Inilah gambaran, bahwa sejak kecil, beliau telah kenyang dengan perjuangan untuk memperoleh setiap apa yang diinginkan. Setiap kesuksesan selalu menghajatkan kepada kesungguhan dalam menggapainya.

Walau tidak menetap, tapi beliau lebih sering tinggal di rumah kakak sepupunya Pakde Yasin di kampung Baron Gede. Keberadaan beliau disinipun jauh dari sempurna, keluarga Pakde Yasin bukanlah keluarga yang berkecukupan, namun mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap beliau yang yatim piatu.

Pendidikan Sekolah Dasar H. Naharussurur ditamatkan di SD Djama’atul Ikhwan Surakarta. Biaya sekolah banyak ditopang oleh KH. Ahmad Al-Asy’ary. Selama menempuh pendidikannya di SD Djama’atul Ikhwan itu pula beliau selalu menghabiskan waktunya di kampung Tegalsari Surakarta. Di tengah itu beliau sempat belajar di Pondok Al-Muayyad di bawah asuhan KH. Umar Abdul Mannan. Ada cerita menarik saat mondok bahwa beliau di pondok makan hanya dua kali yaitu siang dan malam, makan pagi tidak dapat jatah, beliau cerita bahwa jika melihat teman-temannya yang ada biaya untuk makan pagi beliau merasa tambah lapar, apalagi setelah makan pagi masih membawa secangkir kopi dan pisang goring.

Setelah menyelesaikan pendidikan jenjang Sekolah Dasar, oleh KH Ahmad Al-Asy’ari, beliau dikirim untuk sekolah di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Sebuah tempat pendidikan yang belum pernah beliau ketahui. Saat itu beliau sebenarnya mempunyai keinginan untuk mondok di sebuah pondok pesantren terkenal bersama teman sebaya di kampung. Namun hal ini diurungkan karena dilarang oleh Mbah KH. Ahmad Al Asy’ary, sebab kalau beliau ikut mondok disana maka hanya akan banyak bercanda dengan teman sebayanya. Tujuan sebenarnya malah tidak tercapai. Maka jatuhlah pilihan ke Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Pendidikan di Pondok Gontor ditempuh selama 7 tahun mulai tahun 1954. Sering beliau bercerita, ketika pertama kali diantar ke Pondok Gontor, angkutan terakhir yang ditumpangi adalah delman atau andong. Saking pelosoknya –saat itu- sampai terbayang oleh beliau apakah akan bisa betah atau krasan mondok ditempat yang seperti ini. Sepanjang jalan masih ditumbuhi dengan pohon bambu yang sangat rimbun dengan dihiasi suara binatang pohon bambu yang tidak pernah henti. Namun hati berubah 100% setelah melihat lapangan sepak bola yang letaknya persis berdekatan dengan asrama pondok. Hati yang tadinya susah berubah menjadi senang riang gembira. Terdetik dalam benak beliau “berarti bakat saya akan terasah disini”. Sejak saat itu beliau tulis dialmarinya sebuah motifasi
“SAYA HARUS LULUS“ benar saja, selama di Gontor, beliau banyak dikenal oleh sesama santri karena kemampuan dan kecerdasan beliau dalam mengocek si kulit bundar. Pernah pada waktu acara tasyakkuran 80 tahun Gontor, beliau silaturrohmi ke Gontor, saat itu beliau bertemu dengan beberapa alumni yang sudah sangat tua yang beliau tidak kenal, tapi setelah berkenalan dan beliau memperkenalkan diri dengan “embel-embel” pemain bola, spontan alumni yang sudah tua tadi langsung mengenalinya.

Kenangan yang tidak pernah terlupakan di Gontor dan selalu beliau tularkan kepada para santrinya antara lain: Ketika beliau dituduh mencuri. Suatu saat keeper team beliau mencuri sejumlah uang, saat tertangkap, keeper tersebut ditanyai, “siapa teman kamu yang sama-sama mencuri!”, tanpa pikir panjang keeper tersebut menunjuk “Naharussurur”. Beliau secara spontan tertuduh sebagai teman dalam pencurian tersebut. Tuduhan tersebut berdasarkan karena beliau selama belajar di pondok hanya mendapat kiriman uang itu pun tidak cukup untuk membayar administrasi SPP, walaupun demikian beliau terlihat selalu tenang dan tidak terlihat kekurangan uang.

Celakanya cerita ini sampai ke telinga pimpinan pondok, dan langsung memvonis beliau sebagai pencuri yang tidak pantas hidup di pondok. Sampai beliau dilaporkan ke polisi dan sempat beberapa minggu dipenjara di Ponorogo. Padahal beliau hanya terkena fitnah dari keeper teamnya tadi.

Selama dipenjara, walau tidak disiksa secara fisik namun secara mental sangat terpukul, teman-teman sepondok sudah memvonis demikian, gurunyapun sudah menvonis demikian, beliau harus berjuang melawan keadaan tersebut dengan memunculkan kebenaran, tapi bagaimana caranya, beliau bingung.

Ditengah kegundahan beliau, datang utusan dari pondok memanggil beliau menghadap pimpinan pondok. Dengan harap-harap cemas beliau menghadap pimpinan pondok, dengan harapan semoga telah terbuka tabir fitnah tersebut. Tapi harapan tersebut ternyata jauh dari keinginan, beliau diperintahkan untuk pulang walau ujian kenaikan kelas sudah dekat, beliau sadar bahwa ini adalah fitnah, tapi alasan tersebut tidak diterima oleh pimpinan pondok. Beliau harus pulang karena dianggap salah, dengan kata lain disekors dari pondok.

Mendengarkan keputusan tersebut, beliau menerimanya dengan seksama, kemudian pulang ke solo. Beberapa bulan di solo, beliau mendapatkan surat panggilan kembali ke pondok. Dengan segera, panggilan tersebut diiyakan dan langsung beliau berangkat ke Gontor tanpa pikir panjang.

Sesampainya di Pondok beliau langsung menghadap pimpinan pondok. Saat itulah pimpinan pondok memutihkan nama beliau, beliau diberi tahu bahwa yang kemarin adalah fitnah, sang keeper sudah mengakui dan beliau almarhum tidak dianggap bersalah. Saat itu pula santri dikumpulkan, dan dengan jelas bapak pimpinan pondok gontor mengumumkan kepada seluruh santri bahwa almarhum tidak bersalah dan berhak belajar kembali di pondok. Beliau bukanlah seorang pencuri seperti yang pernah dituduhkan sebelumnya. Bahkan untuk menambah kepercayaan kepada beliau, pimpinan pondok memberikan amanat kepada beliau untuk ikut mengurusi keuangan pondok. Hal ini dilakukan supaya nama beliau kembali bersih. Tidak hanya itu, beliau juga diberikan amanat untuk mengajar not balok karena beliau ahli membaca not balok kepada santri kelas enam.

Inilah sepenggal kisah perjalanan mondok beliau, jika dilihat secara lahiriah, sangatlah menyesakkan ketika dituduh mencuri, divonis sebagai orang yang tidak pantas hidup di pondok, namun itu semua ditanggapi dengan kearifan dan lapang dada. Tidak dihadapi dengan emosional dan amarah. Karena walau bagaimanapun, gurunyalah yang berkata demikian. Setiap kejadian pastilah ada hikmah yang terkandung didalamnya.

Walau almarhum harus mengulang kelas 5, kala itu tidak beliau risaukan. Beliau tidak terlalu memikirkan, saya adalah kelas 5, yang sudah menjadi pengurus, kenapa malah difitnah, hal itu jauh–jauh beliau buang. Walau mengulang kelas 5, dijalaninya dengan seksama. Akhirnya kelas 5 dan 6 beliau lalui dengan sempurna dan mendapatkan ijazah kelulusan dari Pondok Gontor tanggal 23 April 1961.

Pengalaman yang lain, Pernah selama lebih dari satu tahun beliau tidak menerima kiriman bayaran dari rumah. Walau kiriman dari rumah tetap kuurang untuk bayar bulanan pondok, tetapi tetap saja dikirimi. Selama beberapa waktu beliau selalu tidak mendapat kiriman untuk membayar, padahal dari rumah selalu mengirim bayaran sekolah beliau. Selama itu pula beliau tidak pernah jajan, bahkan minum air yang dimasakpun tidak pernah. Karena ketika itu pondok tidak menyediakan air masak, bagi yang menginginkan minum air masak maka harus membeli di kantin. Karena beliau tidak punya uang makan, beliau selalu minum air sumur. Setelah diusut, ternyata sebenarnya wesel beliau selalu ada setiap bulan, tetapi diambil oleh orang lain yang namanya sama.

Setelah tujuh tahun belajar di Pondok Gontor, beliau pulang ke Solo dengan membawa predikat lulus dengan memuaskan. Kemudian beliau oleh KH. Ahmad Al-Asy’ari diperintahkan untuk meneruskan kuliah di Institut Agama Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat itu beliau berusia 20 tahun.

Beliau meneruskan di Fakultas Usuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di perguruan ini beliau tidak hanya kuliah, beliau juga mengajar di daerah klaten. Setiap hari beliau pergi dan pulang, Klaten–Yogyakarta untuk mengajar. Dan ini dilalui dengan menggunakan sepeda onthel, sebuah perjuangan untuk meneruskan kuliah.

Belajar beliau di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tidak sampai jenjang S1, Beliau hanya sampai D3 dengan gelar BA. Setelah menyelesaikan program perkuliahan dan tinggal skripsi S1 beliau dipanggil pulang ke solo kembali ke tanah kelahiran beliau di Tegalsari. Oleh KH. Ahmad Al-Asy’ari kemudian beliau dinikahkan dengan salah satu putrinya yang mempunyai nama kecil Mulyani sering dipanggil Yu Mul.

Pernikahan beliau tidak seperti kebanyakan orang, beliau sangat sadar dengan keadaan beliau yang tidak punya apa-apa. Ditawari oleh pakdenya yang tidak lain adalah KH. Ahmad Al-Asy’ari untuk nikah dengan putrinya adalah suatu kehormatan. Hal tersebut karena, selama ini yang menopang biaya sekolah almarhum adalah KH. Ahmad Al-Asy’ari. Sehingga biasa dikatakan beliau adalah majikannya. Almarhum juga sering diutus ke suatu tempat untuk menyelesikan suatu urusan. KH. Ahmad Al-Asy’ari pun tanpa canggung mengutusnya, selain keponakannya, juga beliau membiayai sekolahnya. Bahkan tidak jarang putrinyapun juga tidak jarang minta bantuan kepada almarhum untuk suatu urusan. Nah ketika almarhum ditawari untuk dijadikan mantu, beliau sangat bingung, dan dikonsultasikannlah dengan Almarhum Bp. Yasin. Selanjutnya beliau tidak berani menanyakan lagi, karena suatu hal yang terlihat sangat jauh dari kenyataan.

Ternyata Allah berkehendak lain, pada tahun 1963 dinikahkanlah almarhum dengan putri dari KH. Ahmad Al-Asy’ari yang bernama Mulyani selanjutnya setelah dewasa namanya berubah Muttaqiyah.

Awal-awal pernikahan dilalui dengan segala perjuangan. Setelah menikah beliau langsung diberikan tanggungjawab oleh KH. Ahmad Al-Asy’ari untuk menghidupi keluarga. Akhirnya beliau membuka toko kelontong. Dari kecil akhirnya bisa menjadi ramai, sampai suatu ketika setiap hari beliau harus bolak-balik ke Pasar Legi untuk membeli barang–barang yang akan dijual, hal ini karena sangat terbatasnya modal, dan banyaknya permintaan akan barang. Beliau tidak mau membeli dengan hutang. Beliau berprinsip lebih baik bolak-balik kulakan dari pada harus berhutang untuk mdal. Inilah sikap yang jarang dimiliki generasi sesudahnya. Dalam bekerja mencari uang beliau tidak pingin cepat berhasil atau cepat kaya. Karena hal itu bisa menjadikan kita menghalalkan segala cara untuk mencapainya.

Selama kurang lebih 15 tahun beliau bergulat dengan maju mundurnya usaha toko, sampai pada tahun 1979, beliau diizinkan Allah untuk menjadi tamu Allah pergi Haji ke Baitullah. Kelima putra yang ditinggalkan tidak ditinggali uang saku, hanya toko yang banyak barang. Selama 40 hari barang toko selalu dijual, tetapi tidak membeli barang, hasil penjualan habis untuk makan para anak-anaknya.

Sepulang menunaikan ibadah haji, usaha toko selalu gagal bila dirintis kembali untuk hidup. Allah memilihkan jalan lain, sejak saat itu pula bakat beliau untuk berdakwah mulai dilirik masyarakat. Akhirnya sejak tahun 1980 beliau sering diundang unutk mengisi ceramah kesana-kemari. Usaha tokopun akhirnya tutup. Tahun 1986, setelah putra beliau yang kedua lulus dari pondok Gontor, beliau berniat untuk mendirikan pondok. Hal ini melihat bahwa tanah peninggalan KH. Ahmad Al-Asy’ari sangat luas dan beliau sangat ingin untuk merealisasikan para pendahulu beliau yag menginginkan di Tegalsari ini ada pondok setelah Masjid Tegalsari.

Akhirnya pada tanggal 14 Juni 1986 dicanangkanlah berdirinya Pondok Pesantren Ta’mirul Islam. Pondok pesantren di kota Solo. Hiruk pikuk perkembangan pondok selalu menghiasi perjalanan hidup beliau. Sampai suatu ketika beliau berpikiran untuk membuat suatu konsep agar pondok ini tidak hanya seumur pimpinannya, bisa bertahan terus sepanjang masa dan keutuhan pondok tetap terjaga.

Akhirnya dibentuklah suatu badan wakaf pondok yang bertugas untuk menjaga kelangsungan pondok. Pondok tidak diserahkan kepada keluarga secara mutlak. Beliau sadar betul bahwa pondok ini adalah milik ummat, sehingga yang mengelolapun haruslah ummat, bukan keluarga saja, namun hal ini tidak terus menjadikan keturunan beliau melepas dan tak mau tahu urusan pondok, malah sebaliknya harus menjadi yang terdepan dalam mengurusi pondok.

Pada tahun 2005 oleh Ibu Hj. Muttaqiyah diikrarkanlah wakaf semua tanah warisan beliau dari KH. Ahmad Al-Asy’ari untuk Pondok Pesantren Ta’mirul Islam. Kecuali tanah yang sudah ditempati ketiga anaknya yang berada di pondok tidak diwakafkan. Ketiga anak tersebut adalah, Ust. H. M. Halim, Ust. H .M. Ali, dan Ust. H. M. Adhim. Selain tanah, rumah beliau bertiga telah diwakafkan kepada pondok.

Beberapa hari sebelum beliau masuk rumah sakit untuk yang terakhir kali, penulis mohon supaya KH. Misbahussurur dijadikan sebagai Ketua Majlis Tinggi Pondok. Majlis inilah yang berfungsi dan bertugas untuk memilih, mengangkat dan memberhentikan pimpinan pondok. Usulan ini beliau setujui.

Pada akhir hayat beliau, tepatnya hari selasa, 15 Juni 2010, penulis mengirim undangan kepada semua anggota majlis tinggi untuk hadir di Masjid Yarsis pada hari Rabu, 16 Juni 2010, jam 13.00 WIB. Hal ini karena kebetulan saat itu KH. Misbahussurur dari Purwokerto sedang berada di Solo. Kesempatan tersebut akan kami sampaikan bahwa mereka semua menjadi pengurus dan anggota majlis tinggi yang bertanggung jawab akan pondok.

Namun Allah berkehendak lain, pada jam itu pula, tepatnya jam 13.38 Allah memanggil Ust. H. Naharussurur menghadap keribaan Ilahi. Pergi untuk selamanya. Suasana tambah duka dan tidak terperikan. Setelah jenazah dibawa kerumah duka dan dimandikan, pondok terus dibanjiiri para pelayat yang akan memberikan penghormatan terakhir.

Pada sore harinya, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi datang melayat, beliau menyarankan agar pimpinan pondok segera ditunjuk sekarang. Walau beliau sudah meninggal, tapi pulung masih beliau bawa. Sehingga sebelum beliau dimasukkan ke liang lahat hendaklah sudah ada yang ditunjuk sebagai pengganti, agar tongkat kepemimpinan tidak kosong.

Akhirnya pada malam tanggal 17 Juni 2010, dimusyawarahkanlah siapa pimpinan pondok berikutnya. Dan ditunjuklah ketiga putra beliau yang berada di solo sebagai pengganti tugas beliau memimpin pondok, ketiganya adalah :

  1. H. Mohamad Halim, S.H
  2. H. Muhammad ‘Aly
  3. H. Moh. ‘Adhim, S.Ag, M.Pd

Adapun susunan Majlis Tinggi Pondok Pesantren Ta’mirul Islam

Ketua               : KH. Misbahussurur

Wakil               : KH. Muh. Alim

Anggota           :

KH. Muhammad Halim, SH

Ust. Wazir Tamami, SH

KH. Muh. Ali Naharussurur

Ust. H. Moh. Adhim, S. Ag, M.Pd

Ust. Sunardi Sudjani, S.Th.I, M.Pd.I

Ust. Samadi, S.Ag., M.S.I

Hj. An-Ni’mah Naharussurur