PANCA JIWA

Panca Jiwa Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta sesungguhnya merupakan penerapan sifat pribadi Rosulullah Shallallahu’alaihiwassalam, yakni jiwa ikhlas, sadar, teladan, sederhana, dan kasih sayang.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak”

Dengan akhlak yang luhur tersebutlah, beliau mampu mengajak umat untuk beriman hanya dalam jangka waktu yang singkat. Dan keberhasilah dakwah Rasulullah saw tidak terlepas dari akhlak mulai beliau. Allah berfirman: 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”  (QS Ali Imran ayat 159)

Sifat-sifat tersebut diterapkan dalam Manajemen Berbasis Kegiatan di Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta. Sehingga diharapkan santri Ta’mirul Islam dapat mempraktikkan sifat-sifat tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Dan setelah lulus dari pondok nanti, dapat mengajarkannya kepada masyarakat luas dimanapun mereka mengabdi.

  1. Keikhlasan

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam telah bersabda,Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.

Jiwa ini berarti sepi ing pamrih, yakni berbuat sesuatu bukan karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Segala perbuatan dilakukan dengan niat semata-mata untuk ibadah, lillah. Kyai ikhlas medidik dan para pembantu kyai ikhlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan serta para santri yang ikhlas dididik.

Jiwa ini menciptakan suasana kehidupan pondok yang harmonis antara kyai yang disegani dan santri yang taat, cinta dan penuh hormat. Jiwa ini menjadikan santri senantiasa siap berjuang di jalan Allah, di manapun dan kapanpun.

Bismillah adalah suatu ungkapan bahwa semua yang kita lakukan hanya demi Allah SWT. Amal yang tidak didasari dengan niat mencari ridho Allah SWT, maka amalan tersebut mardud / tertolak oleh Allah SWT. Maka dari itu, dengan bismillah amalan kita akan diterima oleh Allah SWT. Semakin banyak kita membaca basmalah, semakin luruslah niat kita.

Ikhlas adalah rahasia milik Allah SWT. Hanya Allah SWT yang mengetahui keikhlasan seseorang. Keikhlasan adalah ketulusan/kemurnian niat dalam beramal hanya untuk mencari ridho Allah. Keikhlasan adalah rahasia Allah SWT. Namun, ikhlas dapat dirasakan.

Pondok ini di bangun atas dasar keikhlasan. Pondasi utama dari seluruh aktivitas kita adalah keikhlasan. Maka, orang yang ikhlas akan terus tumbuh berkembang. Dan bagi orang yang tidak ikhlas, ia akan gugur ditempa seleksi alam.

Tanda-tanda keikhlasan pada seseorang adalah:

  1. Selalu istiqomah dalam beramal
  2. Tidak berhenti walau ada rintangan dan halangan
  3. Tidak memperdulikan cemoohan atau bahkan pujian.
  4. Tampak bahagia dalam beramal, karena merasa dilihat dan diawasi oleh yang kepadanya amal itu ditujukan.
  5. Akan terus bersemangat karena berorientasi pada hasil yang sudah nyata yaitu ridho Allah.

Salah satu cara termudah untuk menuntun hati kita menuju keikhlasan adalah mengawali segala sesuatu dengan basmalah dan mengakhirinya dengan hamdalah. Karena semakin banyak hamdalah yang kita baca, semakin besar pula keikhlasan yang kita miliki.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. Rasulullah saw. bersabda, Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu. Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah. Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.

Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat. Dalam kesempatan lain beliau berkata, Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.

  1. Kesadaran

Jiwa kesadaran akan menjadikan segenap pengasuh, asatidz serta para santri melaksanakan perannya masing-masing dengan penuh kesadaran. Semua tahu dan mengerti akan tugasnya, yaitu beribadah lillahi ta’alla.

Orang yang didalam dirinya terdapat jiwa ikhlas maka pasti ia akan mempunyai jiwa sadar. Sadar adalah mengerti kewajiban dan siap melaksanakan. Sadar sebagai hamba Allah SWT berarti mentauhidkan Allah SWT dan tidak menyekutukannya, taat menjalankan perintah agama secara dhohir maupun batin, selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita.

Bersyukur adalah mengakui pemberian yang sedikit dengan penghargaan yang setinggi tingginya dan memberi balasan sebanyak banyaknya. Manusia adalah khalifatullah fil Ardl. Khalifah adalah wakil Allah SWT yang mewakili di muka bumi untuk menjaga kelestariannya dan mewujudkan kasih sayang Allah di muka bumi.

Jiwa Kesadaran pada dasarnya merujuk kepada 3 hal :

  1. Sadar sebagai Hamba Allah Ta’ala.

Realisasi dari jiwa yang sadar sebagai hamba Allah, ia akan rajin beribadah baik yang wajib maupun sunnah, selalu membaca Al-Qur’an, selalu berdzikir mengingat Allah, selalu meluangkan waktunya untuk belajar.

  1. Sadar sebagai Khalifah Allah Ta’ala.

Realisasinya dari jiwa yang sadar sebagai Khalifah Allah, ia akan selalu berbuat baik kepada setiap makhluk (hewan & tumbuhan lebih2 manusia), berbakti pada kedua orang tua, menghormati Guru, menghormati buku termasuk buku pelajaran umum, lebih lagi buku pelajaran agama, suka melayani sesama, menjaga lesan dari ucapan kotor.

  1. Sadar sebagai Umat Rasulullah SAW

Realisasi dari jiwa yang sadar sebagai umat Rasulullah adalah dengan bersungguh-sungguh dalam mengamalkan dakwah ilallah, akan merasa risau yang mendalam di hati jika ada perintah Allah yang ditinggalkan.

Kesadaran diri dalam al-Qur’an mengandung pengertian menemukan jati diri dengan cara mendidik dan menghidupkan potensi-potensi fitrah dan internal yang ada pada wujud dirinya dan kemudian menjiwai (memahami dengan hati) hakikat-hakikat keberadaan dan nama-mana serta sifat-sifat Ilahi. Jadi, zat atau esensi dan substansi diri manusia terletak pada kesadaran akan jati dirinya karena kecintaan dan kerinduannya terhadap hal itu merupakan fitrah dirinya.

Jika seorang manusia senantiasa membina dan mendidik kesadaran global dan kesadaran fitrah-nya dan ia mengetahui dan memahami apa yang menjadi prinsip dan dasar (yakni khalifatullah), maka ia telah memijakkan kakinya pada jalan kesadaran irfani dan ia akan merasakan dan memahami hubungan yang bersifat irfani ini, kemudian ia akan merasakan dalam hatinya rasa rindu, cinta Allah SWT kepadanya dan rasa rindu dan cinta ia kepada Allah SWT: ”Allah SWT mencintai mereka dan mereka mencintai Allah SWT.”

  1. Kesederhanaan

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ  إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Mahamengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Mahamelihat.[asy-Syûra/42:27].

‘Ali bin Tsâbit rahimahullah berkata:

اْلعَقْــــــلُ آفَـتُهُ الْإِعْجَابُ وَالْغَضَــبُ وَالْمَالُ آفَـتُهُ التَّــبْذِيْرُ وَالنَّــهْبُ (التمهيد لابن عبد البر 7 / 250)

Kelemahan akal itu bangga diri dan emosi dan penyakit harta itu pemborosan dan perampokan.

Kehidupan di pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif atau nerimo, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam jiwa kesederhanan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup.

Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup dan tumbuhnya mental dan karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi perjuangan dalam segala segi kehidupan .

Asal katanya adalah sederhana. Hakekat dari sederhana & kesederhanaan adalah zuhud atau tidak cinta dunia. Maka dari itu, orang yang zuhud akan mengetahui bahwa semua barang yang dimilikinya adalah milik Allah.

Kesederhanaan itu menyelenggarakan sesuatu sesuai dengan kebutuhan.

Orang yang sederhana akan zuhud dalam 5 hal, yakni ma’kulat (makan dan minum), malbusat (yang dikenakan), maskunat (tempat tinggal), markubat (kendaraan), dan mankuhat (orang yang akan dinikahi).

Sederhana bukan berarti mlarat, namun sederhana adalah sesuai dengan kebutuhan. Kita harus sederhana, agar kuat dalam menjalani kehidupan. Jiwa kita akan menjadi semakin kuat saat terkena benturan atau hantaman.

Sederhana itu akan menjadikan kita sebagai pribadi yang kuat, memuliakan orang lain semulia mulianya, menjadi orang yang dermawan dan lebih mementingkan akhirat daripada dunia.

Jika jiwa pesantren kita hilang, maka kita akan tamat. Karena jika pesantren rusak, kiamat akan cepat datang.

Kita bisa menyimak kata-kata bijak dalam jiwa kesederhanaan :

  1. Kemewahan memberikan hati kenyamanan sesaat, kesederhanaan memberikan hati kenyamanan yang abadi.
  2. Hidup sederhana bukan berarti hidup miskin. Karena banyak orang sederhana yang miskin, dan orang miskin yang tidak sederhana.
  3. Pada Akhirnya semua membutuhkan kesederhanaan agar ia menjadi lebih baik.
  4. Kesederhanaan selalu membuka peluang baru kepada kita.
  5. Orang menjauhi hidup sederhana karena ia terasa hambar… tapi orang yang pernah menikmati nikmatnya hidup sederhana akan terus menyederhanakan kehidupannya.
  6. Saat anda menginginkan kemewahan, terkadang justru hanya kesederhanaan yang bisa membawanya kepada anda.
  7. Dalam kesederhanaan, kita membebaskan pikiran kita dari beratnya beban kerumitan.
  8. Kesederhanaan tidak membebani pikiran anda dengan hal tak bermutu, kesederhanaan memfokuskan pikiran anda pada hal-hal yang penting saja.
  9. Kekayaan yang dikelola dengan kesederhanaan adalah bentuk kemewahan yang sejati.
  10. Sederhana bukan berarti tidak berkualitas, karena banyak produk hebat menjadi unggul karena ia sederhana.
  11. Sederhana bukan berarti tak berkualitas, karena banyak produk hebat menjadi unggul karena ia sederhana.
  12. Kekayaan yang dikelola dengan baik melalui sebuah kesederhanaan adalah bentuk kemewahan yang sejati.
  13. Kesederhaan jauh lebih baik dan lebih kaya daripada sebuah kemewahan harta benda.
  14. Dalam kesederhanaan, kita bisa melihat sebuah kesempurnaan atas segala sesuatu.
  1. Keteladanan

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzaab: 21]

Jiwa keteladanan akan menjadikan setiap diri untuk siap menjadi teladan dalam kebaikan bagi orang lain. Seorang Kyai akan selalu diteladani oleh para ustadz dan santrinya. Santri yang yunior harus mau meneladani kebaikan kakak-kakaknya yang senior. Santri senior harus siap menjadi teladan bagi santri yunior dan sebaliknya. Sehingga satu sama lain saling meneladani dalam hal kebaikan.

Jiwa keteladanan akan menjadikan setiap pribadi untuk:

  1. Menjadi lebih baik dengan usaha mencari contoh baik dari orang-orang yang di sekitar
  2. Melakukan yang terbaik dalam hidupnya selama ia mampu.
  3. Menampilkan sesuatu yang terbaik kepada orang lain dan apabila ada keburukan tidak diperlihatkan oleh orang lain.
  4. Mencintai orang sholeh (para Nabi, siddiqin, syuhada, sholihin) dan mencintainya dari dalam hati. Menjaga cinta orang sholeh dengan sering menceritakan kisah-kisah orang sholeh. berusaha merasa bersama orang saleh secara batin.
  5. Menjadi orang yang bertaqwa. Allah memerintahkan kita untuk selalu bersama dengan orang yang benar, yakni mereka yang disebutkan oleh Allah dalam surat Al Hujuraat ayat 15.

Rasulullah saw adalah Uswatun Khasanah, yaitu teladan bagi setiap manusia yang hidup di dunia. Sebagai umatnya kita disunahkan untuk mengambil dan mencontoh keteladanan beliau. Namun dalam kebanyakan kajian sering orang mengartikan dan memaknainya secara sempit. Mereka menganjurkan kita untuk mengamalkan sunah-sunah Rasulullah saw, tanpa menekankan bahwa Rasulullah itu adalah suri tauladan dan apabila kita ingin mengambil atau melaksanakan keteladanan beliau maka kita pun semestinya harus menjadi teladan bagi orang lain, sesuai dengan kemamuan dan kapasitas kita masing-masing.

Dalam komunitas yang kita bangun sudah seharusnyalah kita bisa saling meneladani atau menjadi teladan satu sama lain dalam arti kebaikan dan menjadi kesatuan masyarakat kecil yang bisa menjadi teladan bagi kehidupan masyarakat. Mudah-mudahan apa yang kita cita-citakan dapat kita raih dan diridloi oleh Allah SWT.

Keluhuran budi pekerti Rasulullah berada pada semua aspek. Rasulullah merupakan suri teladan yang sempurna. Sebagai seorang pemimpin agama, beliau memperlihatkan akhlak seorang Nabi yang berjuang dengan santun, sabar, dan ikhas. Dalam berdakwa beliau tabah menghadapi gangguan dari musuh-musuh beliau yang tak lain berasal dari kaum beliau sendiri. Ketika berdakwah ke kota Thaif, Rasulullah mendapat perlakuan kasar, dilempari kotoran dan hewan batu sampai kaki beliau terluka. Dalam keadaan demikian Allah memberikan izin kepada malaikat penjaga gunung untuk membalikkan gunung keatas kaum Thaif bila Rasulullah kehendaki. Namun Rasulullah saw malah berdoa supaya Allah melahirkan dari keturunan mereka kaum yang menyembah Allah swt, tidak mempersekutukanNya.

Sebagai seorang pemimpin negara, Rasulullah memperlihatkan kepada umatnya bagaimana seharusnya akhlak seorang pemimpin. Beliau menjadi seorang pemimpin yang memecahkan masalah dengan musyawarah, padahal pandangan beliau sendiri sudah cukup tanpa perlu bermusyawarah dengan para shahabat. Cara dan metode Rasulullah dalam memimpin umat diikuti oleh empat shahabat utama beliau yang memerintah setelah wafat Rasulullah, sehingga dijuluki dengan Khulafaur Rasyidin; para pengganti yang mendapat petunjuk. Dalam kehidupan rumah tangga, Rasulullah juga menjadi contoh suami yang baik, selalu bersikap sabar, arif, dan mencintai keluarganya, berlaku adil terhadap istri-istri beliau. Beliau tidak terlalu menyibukkan istri-istrinya, bahkan kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual. Rasulullah juga memberikan contoh hidup zuhud di dunia ini.

  1. Kasih Sayang

إنما يرحم الله من عباده الرحماء

“Sesungguhnya Allah kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya yang pengasih.” (H.R Tabrani)

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاء

“Para pengasih akan dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih, Mahasuci, dan Mahatinggi. Kasihilah makhluk yang ada di muka bumi, niscaya yang ada di langit (malaikat) akan mengasihi kalian.” (H.R Ahmad, Abu Daud At Tarmizi dan Al Hakim).

Jiwa kasing sayang akan menjadi ruh pendidikan. Kesombongan, kebodohan, kemalasan, dan kemarahan hanya dapat diluruskan dengan kasih saying. Kasih saying yang benar tidak akan menghalangi ditegakkannya disiplin dan peraturan. Seorang santri yang mendapat sanksi dari pengasuhnya, bukanlah sedang dihukum karena dendam atau kemarahan, tetapi semata-mata adalah untuk perbaikan dengan penuh kasih saying.

Kasih sayang itu tidak cukup dijabarkan dengan kata-kata. Kita tidak dapat menguraikan/menceritakan kasih sayang kedua orang tua kita, terutama kasih saying seorang ibu. Pondok ini laksana ibu, dengan harapan pondok ini mengawal para santri sebagaimana seorang ibu mendidik anaknya.

Kasih sayang secara garis besar meliputi :

  1. Sayang kepada Allah SWT

Mewujudkan rasa sayang atau cinta kepada Allah SWT dalam diri seorang muslim adalah suatu keniscayaan. Karena tidak akan sempurna ibadah seseorang kepada Allah SWT bila tidak ada rasa cinta di dalamnya.

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah …” (QS.Al-Baqoroh: 165)

  1. Sayang kepada Rosulullah SAW

Mencitai Rosulullah merupakan bagian dari keimanan. Rosulullah bersabda, “Tidak sempurna iman kalian sampai aku lebih dia cintai daripada dirinya, orang tuanya, anaknya dan manusia lain keseluruhan”. (HR. Bukhori dan Muslim)

  1. Sayang kepada sesama

Rosulullah bersabda, “Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia lainnya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Yang termasuk sayang kepada sesama adalah

  1. Sayang kepada orang tua

Abu Hurairoh berkata: “Ada seorang laki-laki datang ke Rosulullah, lalu bertanya, Wahai Rosulullah, siapakah manusia yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan sebaik mungkin? Rosulullah bersabda, Ibumu. Lalu ia bertanya, lalu siapa? Beliau menjawab, ibumu. Ia betanya, lalu siapa lagi? Ibumu, jawab Rosulullah. Ia bertanya lagi, lalu siapa? Bapakmu, jawab beliau. (HR. Bukhori)

  1. Sayang kepada suami atau istri

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS.Ar-Rum:21)

  1. Sayang kepada saudara

Rosulullah bersabda,”Tidak sempurna iman kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagai mana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhori)

  1. Sayang kepada anak

Abu Hurairoh berkata: “Sewaktu Rosulullah mencium Husain bin Ali, di dekatnya ada sahabat yang sedang duduk, bernama al-Aqro bin Habis at-Tamimi. Al-Aqro berkata, saya telah mempunyai 10 anak, tapi saya tidak pernah mencium satupun dari mereka. Rosulullah memandanginya, lalu bersabda,” Barang siapa yang tidak punya rasa kasih sayang, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhori)

  1. Sayang kepada tetangga

Rosulullah bersabda, “Demi Allah, ia tidak beriman. Allah, ia tidak beriman. Allah, ia tidak beriman. Ada yang bertanya, siapakah yang Anda maksud wahai Rosulullah? Rosulullah menjawab, Orang yang tetangganya merasa tidak nyaman dari kejahatan dan keburukannya.” (HR. Bukhori)

  1. Sayang kepada teman

Anas bin Malik berkata: “ Aku pernah duduk di sisi Rosulullah, lalu lewatlah seorang laki-laki. Ada laki-laki lain dari suatu kaum yang berkata, Wahai Rosulullah, sungguh aku sangat mencintai (menyayangi) laki-laki itu. Rosulullah bertanya, Apakah kamu telah memberitahukan hal itu kepadanya? Laki-laki itu menjawab, Belum. Rosulullah bersabda, Berdirilah, dan beritahukanlah kepadanya. Maka laki-laki itupun berdiri menghampirinya, ia berkata, Wahai saudaraku, demi Allah, aku mencintaimu karena Allah. Lalu orang tersebut menjawab, Semoga Allah juga mencintaimu karena kamu mencintai karena-Nya.” (HR. Ahmad, no.1198)

  1. Sayang kepada hewan

Rosulullah bersabda, ”Pernah ada seorang laki-laki dalam perjalanan, ia merasa sangat haus. Kemudian ia bertemu sumur dan turun ke dalamnya, ia minum air sumur lalu keluar. Tiba-tiba ada anjing yang menjulurkan lidahnya, mengendus tanah karena kehausan. Ia berkata dalam hatinya, anjing ini mengalami apa yang tadi aku alami. Lalu ia (turun ke sumur lagi) memenuhi sepatu kulitnya (dengan air), lalu ia gigit dengan mulutnya lalu keluar, selanjutnya ia memberi minum anjing tersebut. atas perbuatannya itu, Allah bersyukur padanya dan mengampuni dosanya. Para sahabat bertanya, wahai Rosulullah, apakah kita akan mendapat pahala jika menolong hewan? Beliau bersabda, “Kebaikan kepada setiap yang punya hati (makhluk hidup) ada pahalanya” (HR. Bukhori dan Muslim)

  1. Sayang kepada tumbuhan

Pesan Abu Bakar ra. Kepada pemimpin pasukannya, Yazid bin Abu Sufyan:

Dan aku berwasiat kepadamu 10 hal. ”Janganlah kalian membunuh wanita, bayi atau orang tua lanjut usia. Dan janganlah kamu memotong pohon yang sedang berbuah. Dan janganlah kamu merusak gedung atau bangunan. Dan janganlah kamu membunuh camping atau onta kecuali untuk di makan. Dan janganlah kamu membakar lebah atau menenggelamkannya. Dan janganlah kamu korupsi, Dan janganlah kamu berkhianat.” (HR. Malik)

  1. Sayang kepada lingkungan

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A’raf: 56)

Konsep kasih sayang dalam Islam lebih lengkap dan komplit. Sehingga kita tidak perlu lagi konsep kasih sayang dari ragam atau ajaran filsafat kepercayaan lain. Jika kita benar-benar mempraktikkan ajaran Islam secara kaffah (integral), maka kita akan merasakan besarnya kasih sayang dalam diri kita, dan orang lainpun merasakannya kenikmatan kasih sayang yang menjadi bagian dari ajaran Islam. (Surakarta, 13 Sept 2017)