Kuliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah

Kuliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) Pondok Pesantren Ta’mrul Islam Surakarta berdiri pada tahun 1987 dengan nama Kulliyyatul Mujahidin Al-Islamiyyah. Secara resmi KMI Ta’mirul Islam disahkan pada tahun 2002 lewat surat keputusan Mu’adalah (penyetaraan) KMI. Semenjak saat itu para santri Ta’mirul Islam tidak lagi mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN) sebagai syarat kelulusan. Tetapi kelulusan ditentukan sendiri oleh pondok.

Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah bisa diterjemahkan sebagai Persemaian Guru-guru Islam. Sesuai dengan namanya maka keunggulan dan titik berat pendidikan di KMI adalah materi-materi keagaamaan Islam. Dari Aqidah, Fiqih, Al-Qur’an, Hadist, Adab dan Akhlaq hingga sejarah Islam (tarikh) dsb. Namun begitu tidak meninggalkan materi umum, seperti cabang-cabang ilmu alam (Biologi, Fisika, Kimia), ilmu sosial (Sosiologi, Geografi, Ekonomi), Matematika serta Bahasa Indonesia. Keunggulan lainnya yang patut dibanggakan yakni adanya sisipan ilmu pendidikan dan pengajaran (At-tarbiyyah wat Ta’lim) beserta praktek mengajarnya (micro teaching).

Level pendidikan di KMI sebetulnya bisa disetarakan dengan level pendidikan strata satu (S1) di perguruan tinggi tanah air. Apa buktinya? Bukti pertama dari segi nama. Kata “Kulliyyatul” dalam nama KMI sejatinya telah terserap dalam bahasa Indonesia menjadi “kuliah”. Bukti kedua adalah adanya micro teaching. Micro teaching adalah suatu materi khusus dalam tahap akhir perkuliahan jurusan keguruan. Dimana seorang mahasiswa dituntut untuk bisa mempraktekkan teori pendidikan yang telah dipelajarinya dalam situasi nyata di kelas sebelum betul-betul disahkan gelar kesarjanaannya sebagai pendidik. Bukti ketiga yaitu ujian lisan (Al-Imtihan As-Syafahi). Ujian ini memiliki format yang mirip dengan uji skripsi. Dimana satu santri diminta masuk keruangan untuk diuji oleh beberapa pengajar. Tidak hanya satu, tapi ada tiga ujian lisan. Ujian Fiqih, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Disetiap ruang seorang santri akan menghadapi tiga sampai empat penguji. Yang artinya setiap santri akan dites keilmuannya minimal oleh sembilan penguji. Bandingkan dengan  skripsi yang “hanya” diuji  oleh empat penguji maksimal. Bukti keempat adalah Karya Tulis Ilmiah (KTI). KTI tersebut berupa takhrijul hadist atau al-bahts yang harus dikerjakan oleh setiap santri akhir KMI. Bahkan pengerjaannya harus dengan menggunakan bahasa Arab atau Inggris.

Selain KMI ada juga Ri’ayatut Tholabah (pengasuhan santri). Sesuai namanya tugas utamanya adalah mengasuh santri. Peran pengasuhan santri adalah sebagaimana peran sosok orang tua mengasuh anaknya. Sebuah tugas yang amat berat. Karena tidak ada sekolah yang mengajarkan bagaimana menjadi orang tua. Menjadi orang tua adalah kemampuan yang harus terus dilatih, diperbaharui dan diperbaiki.

Tugas pengasuhan santri tidak kalah berat dengan KMI. Para staf pengasuhan harus selalu siaga selama 24 jam. Dari mulai bangun pagi hari sampai menjelang tidur malam. Bahkan hingga saat santri telah tidur, para staf pengasuhan pun masih menjalankan tanggung jawabnya memberi perhatian pada santi dengan berkeliling ke kamar-kamar mereka. Memastikan semuanya bisa beristirahat. Memang terkadang para staf pengasuhan santri mendapat cap dan label negatif dari para santri yang diasuhnya. Hal ini dikarenakan salah satu tugas mereka adalah mengingatkan anak yang keluar dari jalur disiplin. Namun ini tidak lain adalah bentuk kasih sayang pendidikan. Sebagaimana tentu tiap orang tua tidak rela anaknya menjadi melenceng dari norma-norma yang berlaku. Baik secara agama maupun sosial.

Tugas para staf pengasuhan ini juga membimbing para santri dalam mengelola organisasi. Sebagai bentuk latihan kepemimpinan yang kelak diharapkan berguna saat bermasyarakat. Sistem pengkaderan di Pondok Pesantren Ta’mirul Islam dilangsungkan secara berjenjang. Dari pimpinan mendelegasikan tugasnya pada para staf pengasuh. Staf pengasuh membimbing para santri senior yang menjadi pengurus OSTI (Organisasi Santri Ta’mirul Islam) dalam pelaksanaan hariannya. Di setiap rayon dan kamar santri pun  ada pengurus yang menjadi pemimpin bagi sanri lainnya. Tak hanya tu pengasuhan juga bertanggung jawab atas penajaman bakat masing-masing santri lewat berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Dari hadrah, Qiroah, sepak bola, bela diri dsb.

Demikianlah sekilas sistem pendidikan Pondok Pesantren Ta’mirul Islam. Begitu lengkapnya. Tidak hanya pendidikan dalam kelas yang diutamakan, namun juga pendidikan diluar kelas. Serta pengasahan bakat-bakat melalui ekstrakurikuler. KMI menjadi tulang punggung akademis. Dan pengasuhan santri menjadi tulang punggung jalannya roda pendidikan pondok selama 24 jam.