Keistimewaan Lima Huruf ‘Ramadhan’

Bulan Ramadhan menjadi momentum tepat bagi kita untuk lebih memaksimalkan penguatan ketakwaan kepada Allah swt. Pasalnya, pada bulan mulia ini, umat Islam selama sebulan penuh digembleng untuk dapat menahan diri dari segala yang membatalkan ibadah puasa dan juga segala hal yang dilarang Allah lainnya. Ramadhan juga menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah sebagai bentuk penghambaan kepada Allah swt. Karena memang, bulan Ramadhan memiliki banyak keistimewaan dibanding dengan bulan-bulan lainnya.  

Jika kita renungkan, huruf-huruf dalam kata Ramadhan pun mampu mewakili keistimewaan yang ada dalam bulan Ramadhan. Seperti kita ketahui bahwa kata ‘Ramadhan’ (رمضان) terdiri dari lima huruf yakni Ra, Mim, Dhad, Alif, dan Nun. Huruf pertama adalah Ra yang bisa mewakili keistimewaan Ramadhan sebagai bulan Rahmat. Kemudian huruf yang kedua adalah Mim yang mewakili keistimewaan Ramadhan sebagai bulan Maghfirah atau ampunan. Hal ini senada dengan berbagai penjelasan yang disampaikan oleh para ulama:

أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ  

Artinya, “Awal Bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”  

Huruf ketiga adala Dhad yang bisa mewakili keistimewaan Ramadan sebagai Syahru Dhiya atau bulan Cahaya. Dikatakan sebagai bulan cahaya, karena malam hari di bulan Ramadhan sering terasa berbeda dari malam-malam di bulan lain. Suasana cahaya kehidupan malam sangat terasa di malam Ramadhan. Banyak umat Islam yang melakukan ibadah seperti shalat malam, Tarawih, Witir, Tahajud dan ibadah lainnya seperti tadarus, baik di masjid dan mushala ataupun di rumah masing-masing. Dengan aktivitas-aktivitas ini, malam Ramadhan pun seolah penuh cahaya yang diturunkan oleh Allah swt untuk menghiasi Ramadhan.

Terlebih malam-malam terakhir Ramadhan yang merupakan malam istimewa karena Allah menjadikannya sebagai malam Lailatul Qadar. Sebuah malam yang istimewa, sampai-sampai disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam seribu bulan . Di malam itu diturunkan para malaikat Allah yang secara khusus termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Qadr 1-5:

  إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ  

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Huruf keempat adalah Alif yang bisa mewakili keistimewaan Ramadhan sebagai Syahrul Iman atau bulan Iman. Hal ini sudah tegas terlihat dari perintah berpuasa sendiri ditujukan bagi golongan orang-orang beriman, bukan kepada golongan lain. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah: 183:

  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ.  

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.  

Bagi orang beriman, bulan Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu karena memiliki keistimewaan berupa ibadah puasa yang merupakan ibadah rahasia. Mengapa rahasia? karena hanya pelakunya dan Allah lah yang tahu. Kita tidak bisa menjamin orang Islam yang terlihat pucat dan lemas di siang hari pada Ramadhan, ia mengerjakan ibadah puasa. Dan sebaliknya, kita juga tidak boleh mengatakan orang yang lincah beraktivitas dan bekerja pada siang hari, tidak melaksanakan puasa. Hanya orang berimanlah yang mampu melaksanakan ibadah puasa dengan baik karena memiliki niat lillahi ta’ala.

Selanjutnya, huruf terakhir dari Ramadhan adalah huruf Nun yakni Najah yang bisa menunjukkan keistimewaan Ramadhan sebagai Syahrun Najah atau bulan kesuksesan. Kesuksesan ini dapat diraih oleh mereka yang benar-benar mau dan mampu memaksimalkan kualitas dan kuantitas ibadah sehingga dapat memaksimalkan Ramadhan yang penuh berkah. Keberkahan ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad dengan berbagai fasilitas yang diberikan Allah di bulan Ramadhan sebagai mana disabdakannya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dan Imam Ahmad:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ  

Artinya “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu. Dalam bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak memperoleh kebajikan di malam itu, maka ia tidak memperoleh kebajikan apapun.”

Kesuksesan orang beriman yang dalam melaksanakan ibadah puasa, akan diganjar oleh Allah swt dengan sebuah predikat yang sangat dinanti-nanti yakni predikat:  لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ sebagai orang-orang yang bertakwa.   Semoga, kita dapat memaksimalkan keistimewaan-keistimewaan di bulan Ramadhan dan kita akan meraih predikat orang-orang yang bertakwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.