Dari Ta’mirul Islam sampai Yaman

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat pesan whatapps dari redaksi majalah akrab, inti dari pesan itu adalah saya diminta untuk bercerita tentang kisah perjalanan hidup saya sejak menjadi santri di pondok pesantren Tamirul islam hingga mendapat beasiswa di Univeritas Al Ahgaff Yaman dan Sekarang sedang merintis Pondok Pesantren Salaf Modern Washoya Imaniyah. Perjalanan itu sungguh Panjang, saya pun bingung mau memulai dari mana, karena saya harus menceritakan perjalanan hidup saya selama enam belas tahun ( 2005-2021), dan merangkumnya menjadi beberapa lembar tulisan saja, namun saya akan berusaha untuk menceritakanya.


Sebelumnya perkenalkan nama saya Mukhlis Febriyanto. B.Sc. saya lahir dikaranganyar 1 februari 1993, masuk ta’mirul islam tahun 2005 dan lulus tahun 2011. Saya merasa beruntung, karena dalam sejarah perjalanan hidup saya, Allah izinkan menimba ilmu di Tamirul islam, khususnya kepada KH Naharussusrur, Hj Muttaqiyah Naharussurur, Kyai halim Abah Ali, dan segenap dewan Assatidz yang sangat saya hormati.


Saat menjadi santri, saya tergolong santri yang biasa saja, yang jika datang masa ujian harus menahan ngantuk demi hafalan, bahkan rela begadang hingga larut malam, yang adalah pribadi yang harus menyendiri di tempat sepi saat hafalan, terutama saat hafalan materi pelajaran, tempat yang sepi membuat durasi hafalan lebih cepat melekat, pokoknya selama ada ruang kelas yang kosong, disitulah saya menyendiri untuk menghafal, karena memang ilmu itu dihati bukan ditulisan, jadi saat ujian tiba, saya sangat jarang ada dikamar, dan kebiasaan ini berlanjut sampai di yaman.


Saya lulus dari pondok tahun 2011, saat itu ada dua santri yang sama nilainya, jadi nilai tertinggi ada 2, saya dan ust Ghufron dari Purwodadi, dengan hasil musyawarah dewan pertimbangan astaidz, akhirnya saya ditetapkan sebagai peringkat pertama, dengan rata-rata nilai 8,25, cukup lumayan bagi orang seperti saya ini. Sekalipun menjadi peringkat pertama, namun saya bukanlah tergolong orang yang cerdas, melainan hanya modal tekad dan sungguh-sungguh. karena menjadi orang pintar itu ada 2 cara, pertama dengan kecerdasan bawaan, yang kedua dengan kesungguhan dan tekad yang kuat, dan saya termasuk yang kedua.


Saat awal kelulusan, sesuai aturan pondok, setiap santri yang lulus di haruskan untuk mengabdi, mengajarkan ilmu yang sudah didapat, namun timbul pemikiran dari beberapa alumni Angkatan saya saat itu yang ingin mengabdi sekaligus menghafalkan Al Quran, ada kurang lebih sekitar 7 atau Sembilan alumni, maka atas niat itu kami ajukan ke pihak Assatidz untuk diizinkan mengabdi sekaligus menghafal Al -Quran, saat itu kami pilih Pondok pesantren darud dakwah, milik KH. Muhammad Halim naharusurur.


Pada tahun pertama pengabdian, saya focus diri untuk hafalan al Quran dan mengajar santri, Ketika masuk tahun kedua, mulailah saat itu saya mempersiapkan diri untuk kuliah diluar negeri, karena sejak saya lulus memang tertanam didalam diri untuk kuliah diluar negeri. Saya cari info sana sini, termasuk lewat internet, dan saat itu saya kumpulkan kurang lebih ada 21 negara yang menyediakan beasiswa untuk santri dan pelajar indonesia, namun dari sekian negara yang menyelenggarakan beasiswa, justru Tarim Hadhramaut Yaman tidak termasuk dalam 21 negara yang saya ingin tuju, itulah skenario Allah.


Singkat cerita saya berangkatlah ke Hadhramaut Yaman pada tahun 2013, tepat 2 tahun setelah lulus dari Ta’mirul Islam, dengan pesawat yemenia yang dicarter pihak Universitas Al Ahgaff, agar direct langsung ke kota Mukalla tanpa transit, berangkat dari soekarno hatta jam 2 siang, sampai di mukalla saat Isya, namun saat itu jam tangan kami menunjukkan bahwa waktu sudah larut malam, pukul 11 malam. Itu terjadi karena antara Yaman dan Indonesia memiliki perbedaan waktu 4 jam.


Setahun pertama tinggal di kota Mukalla masih penyesuaian, dengan materi pelajaran yang masih mudah untuk diikuti, namun saat tahun kedua, agak sedikit berbeda mulai dari materi yang diajarkan semakin sulit, ditambah perang di yaman yang semakin memanas, hingga saat itu pemerintah Indonesia memerintahkan seluruh warga Indonesia yang ada di Yaman untuk ikut evakuasi, namun karena perang terjadi diyaman utara sedangkan kami di yaman selatan, maka dampak perang tidak terlalu terasa. Karena banyak warga Indonesia yang berada di Hadhramaut yang merasa dalam keadaan aman, akhirnya banyak yang tidak mau ikut evakuasi, namun pemerintah Indonesia tidak habis cara, dikirimlah tim khusus untuk membujuk warga Indonesia yang berada dihadhramaut untuk mau diboyong pulang ikut evakuasi, dan akhirnya saya pun kena rayu dan ikut pulang ke Indonesia, setahun kemudian saya balik lagi ke yaman untuk melanjutkan kuliah disana.


Pertengahan tahun 2018 saya lulus dari Universitas Al-Ahgaff dan pulang ke Indonesia sekitar bulan oktober, satu minggu setelah saya pulang, Berdirilah Majelis Taklim Washoya Imaniyah, yang sekarang jamaahnya sudah mencapai 250 orang. Sebelas bulan kemudian tepatnya tanggal 1 September 2019 berdiri pondok pesantren sabtu-minggu, dan tepat tanggal 1 juli 2021, berdirilah Pondok program santri mukim full asrama. ini semua adalah minnah minAllah yang tidak pernah saya sangka, juga berkah doa para guru kami, karena bisa jadi doa-doa beliau dikabulkan lewat Amanah-amanah yang Allah SWT titipkan kepada kami, semoga kisah singkat ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.